Budaya 7 Negeri Adat di Banda, Bantu Tingkatkan Ekonomi Mayarakat

BANDA,PG.COM : Potensi Wisata Budaya di Pulau Banda sangat kuat, karena 7 kampung adat yang berada di pulau Banda memiliki kegiatan-kegiatan ritual,dari kegiatan tersebut menarik perhatian baerbagai daerah yang ada di Indonesia dan juga manca Negara dari situlah maka perputaran ekonomipun berlangsung cukup lancar dan dapat meningkatkan Ekonomi Masyarakat di Pulau Banda.

Tujuh Kampung Adat yang ada di Pulau Banda diantaranya ,Kampung adat Namasawar ,Ratu,Fiat, Lonthoir,Pulau Ai,Selamon,Hatta, memiliki upacara acara adat yang setiap tahun dilakukan adalah Putar Tempat Siri Laut untuk musim Barat dan musim Timur.

Hal ini disampaikan oleh Tokoh Adat Nawasawang, Pulau Banda, Rizal Bahalwan kepada wartawan di Cilu Bintang Estate, Jumat (12/11/2021)

“Ada kegiatan-kegiatan ritual berupa acara Buka Kampung untuk memandikan Perahu Belang baru Kora-kora. Sebelum dicat Belang tersebut harus dimandikan terlebih dahulu itu filosofi seperti bayi yang harus disunatkan.

Kegiatan lainnya juga berupa buka Puang dan membawa tempat sirih ke tempat-tempat ritual. Puang adalah pencerahan untuk bagaimana kita orang Banda menyiarkan agama Islam melalui adat Budaya kita karena sumbu-sumbu Islam ada dalam tempat sirih tersebut. Pertunjukan cakalele juga ada

lanjutannya, biasanya dilaksanakan sesudah buka puang oleh orang-orang kampung adat,” kata Rizal Bahalwan

” Terkait hasil pala asal mula ketika saudagar-saudagar sehingga kita Bangsa Indonesia dijajah karena pala yang hanya didapatkan dulu di pulau Banda karena itu bangsa Persia, Cina, India dan Arab mereka datang pertama kali sebelum kedatangan orang Eropa pala mereka beli dari Banda kalau cengkeh bisa kita dapatkan di Seram, Ambon dan Ternate,” ujarnya.

Rizal Bahalwan mengungkapkan, di tahun 1521 bangsa Portugis datang ke Banda kemudian Belanda dan Inggris, namun Belanda sifatnya memonopoli dan menguasai tempat ini sehingga dia membuat benteng-benteng sehingga orang Banda dalam hal ini tidak setuju maka terjadilah peperangan.

Kemudian Belanda datang menangkap 44 orang-orang kaya dan membawanya ke benteng Massau lalu membunuh mereka kemudian menghilangkan identitas orang asli, sehingga kita keluar dan kemudian dibuat kependudukan baru yang sekarang disini tahun 1621 dan mereka membawa penduduk dari Jawa, Sumatera sampai di Papua dari Sabang sampai Merauke Belanda membuat kependudukan baru sesudah membantai orang Banda tahun 1621.

Sementara itu di Hutan Lonthor ,Ketua LSM Buka Mata Pulau Banda Sarifudin Walam engatakan , dari segi wisata sejarah maka semua kampung yang ada pulau memiliki wisata sejarah karena Belanda meninggalkan seperti Dapur Pala, Perkebunan Pala, Kuburan Belanda, Gereja Tua, Rumah-rumah Belanda sampai Benteng-benteng semuanya masih ada namun sekarang perawatannya kurang dan dalam kondisi yang tidak seperti biasa.

” Wisata yang berhubungan dengan kuliner, sebut Bahalwan, dimana para pekerja perkebunan pala yang datang dari berbagai suku bangsa mereka datang membawa makanan mereka tetapi buatnya dengan mencampurkan makanan khas Banda dalam racikan ada pala, buah kenari dan juga kayu manis serta cengkeh.

Sarifudin mengatakan ,berhubung dengan laut karena ikan di Banda adalah Tuna maka para UMKM di pulau Banda mereka membuat sebagai usaha-usaha untuk oleh-oleh dari pulau Banda misalnya Halua kenari, Manisan Pala, selei pala, jus pala dan ikan asin,” urainya.

“Potensi di Banda sangat luar biasa sebagaimana kita mengatur secara profesional kemudian Pemerintahan membantu dalam hal pelatihan-pelatihan lalu kita buat aturan dan pariwisata Banda sudah terbentuk sebagaimana kita buat polanya sehingga berkesinambungan,dan berkepanjangan sehingga di kemudian hari orang dapat menikmati keindahan pulau banda dan potensi yang ada di pulau Banda tutupnya (PG-O2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *