Kepala BMKG Pusat Jelaskan Alat Peringatan Dini Tsunami di Ambon

AMBON,PG.COM : Barometer News usai acara peresmian stasiun pasang surut pelabuhan Eri Teluk Ambon, kepala BMKG Pusat, Prof. Ir. Dwikorita Kurniawati, M.Sc, memberikan penjelasan terkait alat yang dipasang.

“Jadi sebenarnya peralatan BMKG bukan yang ini, tapi yang dipasang ada di Dobo, di Aru dan ada beberapa di Ambon juga ada, jadi sudah sudah siap ada sekitar 8 yang baru terpasang, dan yang sudah ada sebelumnya ada 9, jadi totalnya akan ada 17 dan segera ditahun ini, unkap kepala BMKG,” ungkap Dwikorita Kurniawati kepada Wartawan, di desa Eri, kecamata Nusaniwe, Kota Ambon, Rabu (11/12/2019).

Mengapa itu harus kami tambah dari 9 tambah 8, tanya Dwikorita, itu untuk meningkatkan kecepatan dalam memberikan peringatan dini tsunami pasca terjadinya gempa.

Dijelaskan Kepala BMKG Pusat, sebagian besar tsunami hampir 95 persen tsunami itu terjadi di awali dengan adanya gempa bumi, dan sebelum alat-alat itu terpasang, setelah terjadinya gempa dalam waktu 5 menit baru bisa ada peringatan dini tsunami.

Namun, kata dia, dengan adanya penambahan alat ini dapat diperhitungkan dalam waktu 3 menit, bahkan 2 menit setelah gempa sudah didapatkan peringatan dini, informasi potensi tsunami.

“Mengapa demikian? Karena data terakhir di Palu tsunami itu terjadi 2 menit setelah gempa bumi terjadi, padahal saat itu sistem peringatan dini baru bisa memberikan peringatan dini dalam waktu 5 menit,” terang Kurniawati.

Di Jepang pun Negara yang paling maju, itu dalam waktu 3 menit. Artinya mau Negara semaju manapun di dunia saat itu tidak mampu memberikan peringatan dini lebih cepat, dari datangnya tsunami, sehingga saat ini pemerintah mengalakan secara serempak, terintegrasi menambah sensor-sensor di seluruh Indonesia dalam waktu tahun ini sampai tahun depan, akan terpasang tambahan sekitar 300 sensor, sehingga total saat ini sudah ada 174, jadi totalnya hampir 500 sensor lebih bisa terpasang di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Dia mengaku, untuk wilayah Ambon akan ada penambahan 4 alat lagi, total keseluruhan ada 24 sensor sampai tahun depan. Menurut Dwi, Taikech di pasang oleh badan informasi Geospasial, fungsinya Taikech ini adalah alat untuk mengukur permukaan air laut, pasang surutnya, dan terdapat GPS untuk mengukur posisi dan pergerakan permukaan tanah itu.

“Alat itu sangat penting untuk menguatkan sistem peringatan dini tsunami dalam hal dengan GPS kita dapat mengetahui posisi dan pergerakan tanah itu akan menambah akurasi perhitungan gempa bumi, pusat gempa yang saat ini kami hitung dengan akurasi sekitar 90 persen, makanya dengan penambahan alat ini akurasinya akan meningkat dalam menentukan pusat gempa dimana, kedalam berapa, dan Magnitudonya berapa. Kemudian alat untuk mengukur permukaan air laut ini gunanya untuk mengverifikasi, karena peringatan dini itu sifatnya perhitungan, prediksi, jangan matematika dihitung kira-kira tsunami akan terjadi itu secara matematis, secara fisika apakah tsunami itu benar-benar terjadi itu dicocokkan, diverifikasi dengan fakta yang terukur dari Taikech ini,” paparnya.

Kepala BNPB itu juga berharap agar masyarakat dapat menjaga Taikech tersebut, karena menurut dia, terjadinya tsunami itu tidak berjam-jam.

Untuk dinamika kegempaan terakhir di Maluku, Kurniawati menambahkan bahwa data terakhir menunjukkan gempa yang terjadi di bulan September 2019, itu sudah mengalami gempa susulan sebanyak 2.714 kali, yang dirasakan tapi itu tidak semua dirasakan, dan menurut catatan yang dirasakan sekitar 300 lebih.

“Artinya apa supaya masyarakat mohon tetap tenang, memang kejadian gempa dan tsunami itu adalah kejadian alam, dan kepulauan Maluku ini bisa terbentuk muncul kepermukaan laut itu juga akibat peristiwa adanya gempa, artinya ini harus seperti itu, yang penting selalu waspada,” imbuhnya.

Kepala BMKG Pusat itu menghimbau, warga yang masih di pengungsian agar segera kembali ke rumah, walau masih ada gempa-gempa kecil namun kondisinya sudah mulai stabil.

Untuk mendapatkan info yang valid, Kurniawati menyarankan masyarakat agar meng-install aplikasi WRS – BMKG untuk mengetahui update tentang terjadinya gempa dan peringatan dini tsunami.

“Untuk status gunung Banda itu berada dibawah monitoring pusat Vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, saya persilahkan bapak-bapak menginstal aplikasi magma Indonesia yang dikeluarkan oleh pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, dan disitu akan terlihat seluruh gunung berapi di Indonesia yang aktif, antara lain gunung Banda, statusnya berapa sementara tadi kami cek itu waspada,” ungkapnya.

Pihaknya juga terus menjalin kordinasi dengan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, karena Banda seandainya gunung itu erupsi tentunya akan membahayakan disekitarnya, dan pusat vulkanologi akan selalu memberikan peringatan ini.

“Wewenang kami adalah menjaga kemungkinan bila terjadinya erupsi itu akan menimbulkan tsunami, sehingga ini kami perlu betul kordinasi dan harus mengetahui kapan erupsi terjadi sehingga BMKG bisa memberikan peringatan dini, waspada tsunami,” pungkasnya (PG-02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *