Mansur : Binaan BI, Rammang-Rammang Potensi Besar Drong Pertumbuhan Ekonomi
MAROS, SULSEL : PG. COM : Pemandu Wisata Mansur (45) kepada Pelagandong.com mengatakan ,salah satu Desa Binaan Bank Indonesia ( BI )
Yakni ammang-rammang merupakan bagian dari sektor pariwisata memiliki potensi yang besar untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi di Dusun Ramang Ramang Desa Salendra Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.Kamis (09/10/2025).
Dikatakan, Bank Indonesia sempat memberikan bantuan berupa pembangunan dermaga, masjid dan jembatan untuk jalan.
“Kami mengucapkan terimakasih banyak kepada BI dan instansi terkait atas bantuan yang telah diberikan. Walaupun kecil, namun sudah sangat membantu masyarakat setempat untuk mendapatkan akses jalan,” ucap mansur
Mansur menjelaskan , di makassar, kota yang terkenal dengan julukan Kota Daeng ini terdapat wisata alam pegunungan batu kapur, menjadi pegunungan batu kapur terbesar kedua di dunia setelah China.
Dikatakan, di ramang-ramah dihuni 20 Kepala Rumah tangga, yang awalnya bekerja dengan suwadaya sendiri kemudian di bantu dengan dana Desa hingga kami juga membentuk KUD dan dari situlah kami mulai berkembang.
Sebagian besar masyarakat setempat bermata pencaharian sebagai pedagang, dan pemandu wisata
Sementara, melalui jalur darat, jarak dari Kota daemg ke ramang-ramang bisa di tempuh selama 2 jam, brhubung cuaca cukup terik, para pengunjung dapat menyewa topi di sini. Biaya sewanya Rp 10.000 .
setelah itu meluncur ke lokasi. Dengan perahu kayu yang panjangnya kira-kira 10 meter kita akan menyeberangi Sungai Pute. Sewa perahu dikenakan tarif Rp 200 ribu untuk 4 orang dan Rp 300 ribu untuk kapasitas 8-10 orang.katanya .
Perahu pun mulai membawa kami menyusuri Sungai Pute dengan pemandangan alam Maros yang sangat indah. Belum lagi, disambut dengan batu cadas berukuran besar di sepanjang sungai.
Sungai yang dilalui pun kian berkelok-kelok. Aliran sungai yang semakin sempit dan bercabang itu membentuk labirin di antara hamparan hutan bakau.
Dalam perjalanan, kita juga akan disuguhkan beberapa terowongan alami yang sangat eksotis, dari batu kapur dengan lebar terowongan tak sampai 2 meter.
Setelah menyusuri sungai sepanjang 3 kilometer selama 30 menit perjalanan, kami lagi-lagi disambut dengan celah dinding bukit batu. Itu sekaligus menandakan kita telah sampai di Kampung Berua, tempat terindah untuk menikmati pengunungan batu kapur.
Wow… kami berdecak kagum menikmati indahnya kawasan bukit kapur dengan luas area 43 kilometer itu. Sungguh maha karya sang pencipta yang luar biasa.katanya
Namun, petualangan masih berlanjut, kami menyusuri goa yang ada di kawasan wisata Rammang-Rammang. Konon, goa-goa di sekitar Rammang-Rammang itu dulunya pernah dihuni oleh manusia purba. Di antaranya ada Goa Kingkong.
Setelah kurang lebih berjalan sejauh 2 kilometer, sampailah di lokasi Goa Kingkong. Keberadaan batu-batu kapur yang besar di sana disebut mirip dengan kingkong.
Menurut pemandu kami, masih sangat jarang turis yang berkunjung ke goa itu. Sebab, lokasinya terpencil dan jauh dari permukiman warga. Lumayan melelahkan tapi menyenangkan.
Mansur menambahkan, masyarakat setempat yang berprofesi sebagai petani, ada juga yang pemandu wisata
dan Isteri-isteri kami berjualan untuk menambah pendapatan keluarg
ingin membangun rumah yang sangat sederhana itu untuk berjualan kelapa muda guna membantu melayani pengunjung (wisatawan) yang ingin untuk memesan.
“Jadi rumah ini kami jadikan sebagai Kios untuk menjual beberapa kebutuhan seperti Aqua, Kelapa Muda, dan lainnya. Siapa tahu ada pengunjung yang sangat membutuhkan,” kata Mansur (PG-01)
