Petrus Menyangkal Yesus Jadi Pesan Moral dalam Kebaktian Anak

AMBON,PG.COM :Kisah Petrus menyangkal Yesus menjadi pesan moral utama dalam Kebaktian Gereja Anak yang dipimpin Penatua (Pnt) Marthen Muskita pada Kebaktian Gereja Muda di Gereja Anugerah Jemaat GPM Leahari, Minggu (08/03/2026).

Pelayanan firman yang diambil dari Lukas 22:54–62 ini mengingatkan anak-anak tentang pentingnya kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, serta pertobatan di hadapan Tuhan, ucapnya.

Kebaktian tersebut mengangkat tema mingguan “Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah.”
Melalui cerita Alkitab yang disampaikan secara sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak luput dari kesalahan, namun Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk berubah.

Dikatakan,Petrus merupakan salah satu murid yang sangat dekat dengan Yesus. Namun ketika Yesus ditangkap dan dibawa untuk diadili, Petrus justru menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus karena rasa takut.

“Petrus adalah murid yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi pada saat itu ia takut dan tidak jujur. Ia menyangkal Yesus sampai tiga kali seperti yang telah dikatakan Tuhan sebelumnya,” katanya

Peristiwa tersebut terjadi ketika Yesus ditangkap dan dibawa oleh para penjaga. Di sekitar tempat pengadilan, beberapa orang mengenali Petrus sebagai pengikut Yesus. Namun karena takut, Petrus berkali-kali menyatakan bahwa ia tidak mengenal Yesus.
Ketika ayam berkokok, Petrus teringat perkataan Yesus bahwa sebelum ayam berkokok ia akan menyangkal-Nya tiga kali. Pada saat itu Yesus memandang Petrus, dan pandangan tersebut membuat Petrus sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan.

“Ketika Yesus memandang Petrus, ia langsung teringat perkataan Tuhan. Petrus pun sangat sedih dan menyesal karena ia sadar telah melakukan kesalahan,” ujar Marthen Muskita.
Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa setiap manusia, bahkan orang yang dekat dengan Tuhan sekalipun, masih bisa melakukan kesalahan. Hal itu juga sering terjadi dalam kehidupan anak-anak, ketika mereka melakukan kesalahan tetapi takut untuk mengakuinya.
Melalui firman tersebut, anak-anak diingatkan untuk tidak menyangkal kesalahan atau berbohong. Kejujuran dan keberanian mengakui kesalahan merupakan sikap yang harus dimiliki sebagai anak-anak Tuhan.

“Kalau kita melakukan kesalahan, jangan takut datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus tidak membenci kita, tetapi tetap mengasihi dan mengampuni jika kita mau bertobat,” kata Marthen

Ia menambahkan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah, bahkan ketika manusia jatuh dalam kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk menyesal, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi perbuatan yang sama.
Melalui pesan firman ini, anak-anak diajak untuk terus memandang Tuhan dalam kehidupan mereka. Dengan hidup dalam kejujuran, takut akan Tuhan, dan berusaha melakukan yang benar, iman anak-anak diharapkan dapat terus bertumbuh sesuai kehendak Tuhan.(PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *