Jelang Ramadan 2026, Raja Tulehu Serukan Stabilitas Keamanan di Jazirah
AMBON, PG. COM : Menjelang bulan suci Ramadan 2026, perhatian terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Jazirah Leihitu semakin diperkuat. Hal ini menyusul adanya ketegangan yang sempat terjadi di antara beberapa negeri di kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Raja Negeri Tulehu, Urian Ohorella kepada Awak Media di Ruang kerjannya , Sabtu (14/03/ 2026) mengatakan situasi keamanan di wilayah Jazirah perlu dijaga secara serius melalui kerja sama antara pemerintah negeri, masyarakat, serta aparat keamanan agar tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas
Menurut Ohorella, paguyuban Jazirah telah mengambil langkah-langkah strategis dengan memperkuat koordinasi bersama aparat TNI dan Polri, termasuk jajaran Polsek dan Koramil setempat .
“Kita dari paguyuban Jazirah sudah mengambil kebijakan untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi. Karena itu kami berkolaborasi dengan pihak TNI dan Polri, baik Polresta maupun Polsek, supaya ke depan wilayah ini bisa semakin kondusif,” kata Raja Negeri Tulehu, Urian Ohorella.
Ia menjelaskan bahwa hasil evaluasi bersama menunjukkan sebagian besar ketegangan yang pernah terjadi di kawasan Jazirah Leihitu Barat dipicu oleh pengaruh minuman keras yang beredar di tengah masyarakat.
“Kesimpulan kami, hampir semua ketegangan yang terjadi berasal dari minuman keras. Karena itu peredarannya harus dibatasi. Kalau pun ada, hanya boleh pada acara-acara tertentu yang memang dapat ditoleransi,” ujarnya.
Wilayah Jazirah Leihitu Barat memiliki posisi strategis sebagai jalur perlintasan masyarakat dari beberapa daerah di Maluku, termasuk Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, serta Kota Ambon. Kondisi keamanan wilayah ini menjadi penting, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat saat Ramadan dan Idul Fitri.
“Wilayah ini merupakan pintu masuk dari tiga kabupaten dan juga Kota Ambon. Karena itu kita berharap kondisi tetap kondusif supaya masyarakat yang datang, termasuk mereka yang mudik, bisa merasa aman dan nyaman,” tambah Ohorella
Dalam upaya mengendalikan peredaran minuman keras, pihak paguyuban Jazirah bersama aparat kepolisian juga memperketat pengawasan distribusi miras yang masuk melalui jalur laut.
“Kami sudah bersepakat dengan Kapolsek untuk memperketat distribusi miras yang masuk lewat jalur laut. Bulan kemarin aparat berhasil menyita sekitar dua ton miras yang sekarang diamankan di kantor Polsek,” ungkapnya.
Selain itu, Raja Tulehu juga meminta seluruh raja negeri dan kepala desa di kawasan Jazirah untuk berperan aktif dalam mengawasi peredaran miras di wilayah masing-masing, terutama menjelang perayaan Idul Fitri.
“Kami berharap para raja negeri dan kepala desa bisa mengambil langkah bersama untuk mengatasi peredaran miras. Kalau bisa satu minggu menjelang Lebaran sudah ada pembatasan agar situasi tetap aman,” tegas Ohorella.
Ia juga mengingatkan agar pengalaman ketegangan sosial yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya tidak kembali terulang, terutama konflik yang sempat terjadi antara beberapa negeri di kawasan tersebut.
“Kita tidak ingin kejadian seperti tahun-tahun sebelumnya terulang lagi. Ketegangan antar negeri harus dicegah sejak dini dengan menjaga keamanan bersama,” pungkasnya.
Melalui sinergi antara pemerintah negeri, masyarakat, serta aparat keamanan, diharapkan stabilitas keamanan di wilayah Jazirah Leihitu Barat dapat terus terjaga sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan aman, tertib, dan penuh kedamaian. (*)
