Halal Bi Halal Nusamba Tegaskan Nusalaut–Ambalau sebagai Laboratorium Perdamaian Umat Beragama di Maluku

AMBON, PG. COM : Tradisi Halal Bi Halal keluarga besar Gandong Nusalaut–Ambalau (NUSAMBA) kembali digelar sebagai momentum mempererat persaudaraan sekaligus menegaskan kekuatan nilai toleransi di tengah masyarakat Maluku. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Islamic Center Waihaong, Selasa (14/4/2026) malam,

Halal Bihalal dihadiri ratusan warga dari berbagai latar belakang sosial dan budaya.

Acara bertema “Nusamba Menjadi Laboratorium Perdamaian Umat Beragama di Maluku untuk Indonesia” itu dihadiri Gubernur Maluku, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh perempuan, serta tokoh pemuda. Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas relasi pela gandong antara masyarakat Nusalaut dan Ambalau.

Dalam sambutannya, Gubernur Maluku menegaskan bahwa tradisi Halal Bi Halal bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan warisan budaya yang sarat makna sosial dan kebersamaan yang perlu terus dirawat lintas generasi.
“Halal Bi Halal adalah warisan luar biasa dari para leluhur. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi simbol persaudaraan yang harus terus kita jaga,” katanya.

Ia juga menilai hubungan pela gandong antara masyarakat Nusalaut dan Ambalau sebagai salah satu contoh nyata kehidupan harmonis yang memiliki kekuatan sosial luar biasa di Maluku. Menurutnya, kekuatan tersebut tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keamanan daerah.

“Beta belum pernah melihat pela gandong sekuat Nusamba. Ini adalah kekuatan yang harus dirawat sebagai warisan leluhur,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai persaudaraan yang hidup dalam tradisi Nusamba merupakan modal sosial penting untuk mendorong pembangunan dan menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan nilai tersebut sangat bergantung pada komitmen bersama seluruh masyarakat untuk merawatnya secara konsisten.

“Katong jaga ini baik-baik. Nusamba bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan Maluku yang damai dan sejahtera,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Presidium Nusamba Maluku menegaskan bahwa Halal Bi Halal memiliki makna mendalam sebagai ruang mempertemukan hati dan memperkuat solidaritas di tengah keberagaman masyarakat.
“Ini bukan hanya pertemuan fisik, tetapi bagaimana katong tetap menjaga kebersamaan, meski dalam perjalanan pasti ada perbedaan,” kata Sekretaris Jenderal Presidium Nusamba Maluku, Yani Parinussa.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 800 orang tersebut juga diisi dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan piatu dari 14 negeri di wilayah Nusalaut dan Ambalau sebagai bentuk kepedulian sosial komunitas. Acara kemudian ditutup dengan hikmah Halal Bi Halal yang menegaskan pentingnya menjaga nilai persaudaraan sebagai fondasi utama harmoni kehidupan masyarakat Maluku.

Momentum Halal Bi Halal Nusamba tahun ini kembali menegaskan bahwa tradisi pela gandong bukan sekadar simbol budaya, tetapi menjadi laboratorium nyata perdamaian umat beragama di Maluku. Nilai toleransi, solidaritas, dan kepedulian sosial yang terus diwariskan menjadi bukti bahwa harmoni masyarakat dapat terjaga melalui komitmen kolektif menjaga persaudaraan lintas generasi. (PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *