Kolaborasi Kodaeral IX-WANADRI Dorong Konservasi Laut di Pulau Buru

BURU,PGCOM : Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX bersama Yayasan WANADRI terus memperkuat upaya konservasi laut di Pulau Buru melalui program restorasi ekosistem pesisir yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan penanaman atau transplantasi terumbu karang yang diikuti 40 peserta di Jikumerasa Beach Resort, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program terpadu yang difokuskan pada restorasi terumbu karang, rehabilitasi mangrove, dan pemberdayaan masyarakat melalui program IBU KARANG. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan kerusakan lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi penopang kehidupan warga pesisir.

Pelatihan dipandu langsung oleh Instruktur Selam Ambon Dive Explore, Zainal Renuat, dengan materi mengenai teknik transplantasi karang dan fungsi ekologis terumbu karang bagi kehidupan laut. Peserta yang terlibat berasal dari personel Kodaeral IX, Basarnas, Tim Ekspedisi Selam WANADRI, serta masyarakat Desa Jikumerasa yang secara aktif mengikuti proses pembelajaran dan praktik lapangan.

“Penanaman terumbu karang sangat penting karena berfungsi sebagai penyelamat keanekaragaman hayati laut, pelindung garis pantai dari abrasi, serta menjadi penopang utama ekonomi masyarakat pesisir,” kata Instruktur Selam Ambon Dive Explore, Zainal Renuat.

Menurutnya, keberadaan terumbu karang tidak hanya menjadi habitat bagi jutaan biota laut, tetapi juga berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung sektor perikanan serta pariwisata bahari. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak dalam program konservasi menjadi faktor penting untuk memastikan keberhasilan upaya pemulihan lingkungan pesisir di Pulau Buru.

“Fragmen karang yang ditanam hari ini diharapkan dapat tumbuh dengan baik sehingga mampu memulihkan fungsi ekosistem laut, menjaga keanekaragaman hayati, dan menjadi benteng alami Pantai Jikumerasa dari ancaman abrasi,” kata Zainal Renuat.

Melalui kolaborasi yang melibatkan unsur militer, organisasi pecinta alam, lembaga penyelamat, dan masyarakat lokal, program konservasi ini diharapkan mampu menciptakan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan pesisir. Selain memulihkan ekosistem bawah laut, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga kekayaan laut Maluku bagi generasi mendatang. (PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *