Kodam Pattimura Jelaskan Spesifikasi Jembatan Wai Tomu, Tanpa Mengubah Fungsi dan Bentuk Sungai

AMBON, PG. COM : Pembangunan Jembatan Wai Tomu di kawasan Mardika, Kota Ambon, yang dilaksanakan Kodam XV/Pattimura merupakan wujud kepedulian dan semangat gotong royong untuk mendorong kemajuan kota serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menanggapi surat Balai Wilayah Sungai (BWS) yang menyoroti potensi penyempitan kapasitas tampung sungai, perubahan karakteristik aliran, gangguan ekosistem, hingga risiko banjir dan sedimentasi,

Dalam kegiatan Forum Group Disscusion (FGD) bersama seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, pada Kamis (29/10/2026) di Serambi Kehormatan Makodam, Kapoksahli Pangdam XV/Pattimura, Brigjen TNI Julius Jolly Suawa, S.Sos., menjelaskan sejumlah spesifikasi teknis pembangunan yang perlu dipahami secara menyeluruh berdasarkan kondisi di lapangan.

Dari aspek konstruksi, pembangunan Jembatan Wai Tomu memiliki bentangan sepanjang 120 meter. Lebar bentangan konstruksi yang melintasi sungai dirancang mencapai 20 meter, sementara lebar sungai hanya 18 meter. Perencanaan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan lebar sungai seperti kondisi semula.

Sebelum pembangunan dimulai, pembersihan sedimentasi dan sampah yang menumpuk di dasar sungai telah dilakukan. Langkah ini bertujuan memperbaiki kondisi aliran, sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan sungai. Pekerjaan juga mencakup pembangunan fondasi bored pile sebagai penyangga gelagar serta perbaikan talud penahan di sisi sungai.

Lebih lanjut, gelagar beton direncanakan berada sekitar 1,55 meter di atas bibir sungai. Desain ini ditujukan untuk menyediakan ruang aliran air di bawah bangunan mengantisipasi saat kondisi sungai meluap atau banjir. Sementara itu, bentangan jembatan dirancang tanpa pilar penyangga di tengah sungai, dengan penguatan struktur melalui elemen penyangga antara gelagar yang berjarak tiga meter.

Spesifikasi tersebut menjadi bagian dari penjelasan teknis pembangunan yang perlu diperhitungkan bersama kondisi aktual sungai. Adapun kepastian mengenai kapasitas tampung, kelancaran aliran saat debit tinggi, dan potensi dampak banjir tetap perlu didukung pengukuran serta kajian hidraulika oleh instansi teknis berwenang.

Untuk mengantisipasi sampah yang terbawa aliran sungai, Kodam XV/Pattimura juga merencanakan pemasangan jaring penahan sampah diujung jembatan. Selain itu, pembangunan check box ditujukan untuk memudahkan pemantauan kondisi di bawah jembatan, guna melihat adanya sedimentasi dan penumpukan sampah, sehingga pembersihan serta pemeliharaan dapat dilakukan secara berkala.

Penataan kawasan turut mencakup perbaikan trotoar di sepanjang Jalan Pasar Mardika. Langkah ini diharapkan menciptakan lingkungan yang lebih rapi, nyaman, dan tertata, sekaligus mendukung aktivitas masyarakat serta pelaku usaha di kawasan tersebut.

Berbagai aspek pembangunan itu menunjukkan pentingnya melihat Jembatan Wai Tomu tidak hanya dari bentuk konstruksinya, tetapi juga dari tujuan penataan kawasan, manfaat bagi masyarakat, dan upaya menjaga fungsi sungai. Karena itu, koordinasi antara Kodam XV/Pattimura, BWS, dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan seluruh aspek teknis dapat ditelaah secara terbuka dan objektif.

Pembangunan yang didukung masyarakat ini diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama membenahi kawasan Mardika agar lebih tertata dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Kota Ambon.

Pada akhirnya, semangat membangun kota harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, keselamatan masyarakat, serta keberlanjutan lingkungan. Dengan komunikasi dan evaluasi teknis yang baik, pembangunan Jembatan Wai Tomu diharapkan dapat memberikan manfaat optimal tanpa mengabaikan fungsi sungai. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *