Unpatti Pastikan Konstruksi Jembatan Sungai Waitomu Tidak Hambat Aliran Air

AMBON, PG.COM : Pusat Studi Lingkungan dan Sumber Daya Alam Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pattimura (Unpatti) memastikan konstruksi jembatan di kawasan Sungai Waitomu, Kota Ambon, tidak menghambat aliran air maupun menjadi penyebab banjir.

Kepastian tersebut berdasarkan hasil pengamatan langsung terhadap desain konstruksi, bentangan jembatan, kondisi permukaan air sungai, serta pengaruh pasang surut air laut.

Kajian ini dilakukan menyusul polemik penataan kawasan Sungai Waitomu yang menjadi perhatian masyarakat.
Ahli lingkungan Universitas Pattimura, Abraham Tulalessy, menjelaskan bahwa jembatan tersebut dirancang memiliki bentangan sepanjang 20 meter, sementara lebar sungai di lokasi pembangunan sekitar 15 meter.

Selain itu, konstruksi tidak menggunakan tiang penyangga permanen di bagian tengah sungai. Tiang-tiang yang terlihat selama proses pengerjaan merupakan penyangga sementara yang akan dilepas setelah pembangunan selesai. Dengan desain tersebut, ruang aliran air dinilai tetap terbuka tanpa mengalami penyempitan akibat struktur permanen.

“Dari informasi yang kita dapat, sepanjang sejarah Sungai Waitomu, air pasang tertinggi atau air pasang laut belum pernah melewati talut yang ada. Artinya, ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan air pasang, air sungai akan mengalami hambatan untuk mengalir ke laut dan berpotensi kembali ke arah hulu,” kata ahli lingkungan Universitas Pattimura, Abraham Tulalessy, Jumat (6/11/2026).

Ia menjelaskan, potensi banjir justru perlu dilihat dari persoalan pendangkalan dan tingginya sedimentasi di sejumlah kawasan hulu Sungai Waitomu.

Beberapa titik yang menjadi perhatian antara lain kawasan Swissbell, Punggansa, Jembatan Waitomu, hingga sekitar Kepolisian Daerah (Polda) Maluku. Penumpukan sedimen di kawasan tersebut berpotensi mengurangi kapasitas tampung dan daya alir sungai, terutama ketika curah hujan tinggi bertepatan dengan kondisi air laut pasang.

Hasil pengukuran di lokasi pembangunan juga menunjukkan jarak antara permukaan air saat surut dengan bentangan jembatan mencapai sekitar 2,5 meter. Sementara pada kondisi pasang tinggi, jaraknya masih sekitar 1,6 meter.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, konstruksi jembatan dinilai tidak menghalangi aliran air. Kendati demikian, risiko genangan dan luapan sungai tetap harus diantisipasi melalui penanganan sedimentasi dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Sebagai langkah mitigasi, pihak pelaksana pembangunan direkomendasikan memasang jaring penahan sampah di bagian hulu dan hilir proyek serta membangun perangkap sedimen agar material endapan tidak menumpuk di sekitar konstruksi.

Rekomendasi ini menjadi penting agar pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan fungsi ekologis sungai. Dengan demikian, penanganan Sungai Waitomu perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pengendalian sedimentasi, pengelolaan sampah, dan pemeliharaan kapasitas aliran air. (PG-01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *