Rutong-Rumahkay Gelar Panas Gandong

AMBON,PG.COM : Masyarakat Dua Negeri Adat di Maluku di yaitu Negeri Rutong (Lopurisa Uritalai) Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Maluku, dan Negeri Rumahkay (Amakele Lorinalahitu), Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menggelar ritual Adat Panas Gandong.

Raja Negeri Rutong Reza Valdo Maspaitella kepada awak media di Pantai Negeri Rutong,Rabu (18/03/2020) mengatakan panas Gandong yang dilakukan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali generasi muda kedua negeri antara ikatan persaudaraan sekandung yang harus dipegang teguh, dijunjung tinggi dan harus dihargai.

” Acara ritual penting untuk mempererat persaudaraan kedua Negeri Rutong sebagai Gandong Ade sementara Rumahkai adalah gandong kk , yang terikat dalam satu gandong/kandung (persaudaraan satu kandung-atau hubungan saudara dalam adat Maluku)”

Acara ridwal adat ini dilakukan 5 tahun sekali sejak tahun 1939, untuk menghangatkan kembali relasi orang sodara, yang percaya bahwa leluhur mereka berasal dari gandong/kandung yang sama.

Melalui kegiatan adat tersebut, Raja berharap, fondasi landasan kasih yang telah diterapkan oleh tete nenek moyang (leluhur) selama ini bisa dapat hidup dalam kedua Negeri, sehingga dengan dasar kasih ini, akan berdampak bagi pembangunan, baik fisik maupun SDM,harapnya.

Sementara itu Sekertaris panitia Panas Gandong Oni Makatitta mengatakan, kegiatan Panas gandong berlangsung selama 4 hari dari tangal 18-21 Maret 2020,

” Negeri Rutong menyambut kedatangan gandong kakak dari Rumakay. yang mana kegiatan ini akan berjalan selama 4 hari yang akan diisi dengan berbagai kegiatan yang bertujuan unuk mempererat hubungan kedua Negeri,”jelasnya.

Sesuai jadwal, ritual adat dimulai dengan perjalanan gandong kakak dari Rumahkay sebanyak 1470 jiwa menuju Negeri Rutong melalui jalur laut ,Gandong kakak Rumahkay selanjutnya menyinggahi kolam Sapaloa yang diterima marga Lesi sebagai pendatang pertama di negeri Rutong ,selanjutnya mereka berjalan dipesisir pantai Negeri Rutong untuk melakukan ritual adat dan di sambut oleh Gandong Ade/adik Negeri Rutong dan selanjutnya menuju Baileo/rumah adat Negeri Rutong.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan peresmian Monumen Amalopu yang berdekatan dengan rumah adat.

“Mengingat ini adalah lambang hubungan dari dua kakak beradik yang memiliki arti sebuah hubungan kasih. Sehingga saya berharap landasan kasih ini kita bisa bagikan sebagai contoh, bukan hanya Maluku, tetapi juga indonesia dari Maluku untuk Indonesia.

Sementara Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Ambon, Rico Hayat mengaku memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang merealisasikan dua Negeri yang nilai historisnya luar biasa dan perlu dilestarikan.

“Selain Ambon sudah ditetapkan sebagai kota musik dunia, kita juga akan melestarika budaya-budaya yang ada di Kota Ambon.”

Dikatakan, dengan perkembangan zaman saat ini budaya yang ada di Maluku hampir punah oleh karena itu budaya panas Pela Gandong yang dilaksanakan saat ini perlu dilestarikan karena kegiatan ini memiliki nilai penting dan strategis bagi upaya untuk mengangkat kembali Wibawa dan eksistensi negeri adat

Rico menambahkan Panas Gandong yang dilaksanakan negeri rutong dan rumahkai ini akan menjadi contoh untuk dapat diimplementasikan oleh negeri-negeri adat lainnya, baik itu dalam ikatan Gandong maupun ikatan Pela dalam rangka meningkatkan hubungan yang rukun toleran Selaras dan serasi serta

Implementasi budaya Gandong ini diharapkan akan membawa dampak positif bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia,dan menjadi suatu kegiatan yang bernilai positif bagi seluruh anak cucu Kedua negeri, baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di tanah Rantau untuk dapat memberikan sumbangsih bagi pembangunan Daerah asalnya masing-masing harapnya (PG-02) .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *