Bupati Malra Tinjau Rumah Tidak Layak Huni
Maluku Tenggara – Setelah menghadiri sekaligus melakukan cor awal Lantai Mesjid Al’ Manafi Ohoi Dian Pulau Kecamatan Hoat Sorbay, Bupati Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Thaher Hanubun menyisikan waktu luang meninjau dua unit Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di Ohoi Soinrat Kecamatan Kei Besar Sabtu, (6/11/2021).
Kunjungan tersebut dilakukan Bupati sebagai respon atas keluhan masyarakat sebagaimana diterimanya beberapa waktu lalu.
Dua rumah tidak layak huni dimaksud, masing-masing ditempati oleh Maria S Mituduan/Maturan dan Wilhelmus Fatubun (Almarhum).
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, kondisi rumah keluarga Ibu Maria S. Maturan nampak sangat memprihatinkan, dimana kini tidak layak untuk ditempati lagi. Kondisi fisik bangunan rumah rusak parah dan bahkan hampir roboh.
Kondisi serupa juga terlihat pada rumah bapak Wilhelmus Fatubun dimana atap bagian kanan sudah terlepas dari bangunan rumah, begitu pula dengan dinding bagian kanan terlihat rusak parah.
Saat memantau kondisi kedua bangunan kumuh dan tak layak huni ini, Bupati Thaher sangat terharu. Ia lantas menyampaikan akan memberikan bantuan agar dua rumah tersebut dapat segera dibangun kembali sebagaimana mestinya.
Thaher mengatakan, bantuan yang diberikan adalah berupa “Yelim”. Yelim pribadi, bukan saja darinya melainkan juga akan dibantu oleh Kepala Dinas Sosial serta Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan setempat.
Kedua rumah ini rencananya akan mulai dikerjakan pada Senin (8/11/2021), dengan ukuran 3×6 meter.
Hanubun juga turut meminta Camat Kei Besar agar mengawasi jalannya proses pekerjaan dan pemngunan dua rumah dimaksud.
Orang nomor satu Bumi Larvul Ngabal ini menyebut masih terdapat banyak rumah tidak layak huni di wilayah Pulau Kei Besar. Untuk itu, Thaher meminta OPD terkait, Camat dan para Kepala Ohoi setempat agar memprioritaskan bantuan terhadap rumah-rumah dimaksud.
“Harus diakui bahwa ada banyak rumah yang terlihat belum layak huni. Kepada para kepala OPD, Camat dan kepala Ohoi agar bagi rumah-rumah yang sudah tidak layak dihuni ini harus diprioritaskan untuk mendapat bantuan, terutama bantuan bedah rumah,” tegas Bupati.
Sementara itu, Maria S. Mituduan/Maturan sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan Bupati Thaher Hanubun.
Maria mengaku terharu sekaligus bangga memiliki sosok pemimpin daerah yang sosialis seperti Bupati Thaher Hanubun.
Kehidupan ekonomi keluarga ibu Maria S. Maturan sangat terpuruk sepeninggal sang suami yang telah lama meninggal dunia. Kini ia hanya hidup dengan ketiga anaknya.
Lantas bagi Maria, kehadiran dan bantuan “Yelim” yang diberikan Bupati Thaher menjadi berkah tersendiri untuk keluarganya.
“Selama ini kami tidak mendapat bantuan apapun dari Pemerintah, baik dari Pempus maupun hingga di ohoi ini. Tapi lewat Pa Bupati Thaher, hari ini kami bisa dapat bantuan rumah. Terima kasih Pa Bupati Thaher,” ucap Maria.
Hal serupa juga turut dirasakan Paulina Fatubun/Yenyaan, istri dari Wilhelmus Fatubun (alm).
Menurut Paulina, rumah yang ditempatinya saat ini merupakan bangunan tua peninggalan keluarga dari sang suami. Rumah tersebut sejak dahulu tidak pernah mendapat bantuan pemerintah.
“Sejak Indonesia merdeka, kami belum merasakan kemerdekaan itu. Tapi puji Tuhan, hari ini dengan kehadiran Pa Bupati Thaher, kami sudah merdeka,” tandas Paulina.
Untuk diketahui, “Yelim” merupakan sebuah tradisi masyarakat Kei tentang pemberian sumbangan sukarela kepada keluarga atau kerabat yang membutuhkan.
Yelim diberikan secara tulus pada setiap momen suka maupun duka dalam balutan kasih sayang sebagaimana falsafah tetuah Kei “Ain ni Ain” (hubungan kekerabatan).Tradisi ini dikembangkan turun temurun sejak masa leluhur masyarakat Kei, tanpa memandang status sosial maupun agama tertentu.
