Deflasi Maluku Maret 2026 Turun 0,75%

AMBON, PG.COM : Provinsi Maluku mencatat deflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2026. Angka ini menunjukkan pembalikan arah dibandingkan Februari 2026 yang mengalami inflasi sebesar 0,58 persen, dengan penurunan harga komoditas perikanan sebagai faktor utama.

Secara spasial, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 1,40 persen (mtm), disusul Kota Ambon sebesar 0,43 persen (mtm). Namun demikian, laju deflasi tersebut tertahan oleh inflasi di Kota Tual yang mencapai 0,37 persen (mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Maluku tercatat sebesar 3,40 persen, masih berada dalam kisaran target nasional 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 5,97 persen.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,73 persen. Penurunan harga komoditas perikanan seperti ikan layang, ikan selar, ikan tongkol, dan ikan cakalang menjadi faktor dominan dengan kontribusi deflasi masing-masing sebesar 0,36 persen, 0,23 persen, 0,16 persen, dan 0,12 persen.

“Penurunan harga ikan dipengaruhi oleh meningkatnya produksi akibat kondisi cuaca laut yang kondusif, serta adanya intervensi pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dr. Andi Setiawan.

Selain faktor produksi, intervensi pasar melalui penjualan ikan beku dengan harga yang lebih rendah dibandingkan ikan segar turut menekan harga di tingkat konsumen.

Di sisi lain, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mencatat deflasi sebesar 0,03 persen yang dipengaruhi oleh penurunan harga emas di pasar internasional.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku terus mengoptimalkan berbagai langkah pengendalian inflasi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Strategi ini berfokus pada penguatan empat pilar utama, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Ke depan, sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui kerja sama antar daerah, pelaksanaan operasi pasar, serta pemantauan harga dan stok secara rutin,” kata Sekretaris TPID Maluku, Ir. Rudi Leimena.

Upaya konkret yang dilakukan meliputi penguatan kerja sama dengan daerah sentra produksi, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, serta peningkatan koordinasi lintas pemangku kepentingan. Pemerintah juga terus memperkuat komunikasi publik terkait harga dan pasokan guna menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.

Dengan capaian deflasi ini, stabilitas harga di Maluku dinilai tetap terjaga. Meski demikian, pemerintah dan TPID tetap mewaspadai potensi tekanan inflasi ke depan, terutama menjelang hari besar keagamaan dan dinamika cuaca yang dapat memengaruhi produksi serta distribusi pangan. (PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *