BI Soroti Perikanan, UMKM dan PSN sebagai Motor Ekonomi Maluku
AMBON, PG.COM: Bank Indonesia (BI) menyoroti sektor perikanan, penguatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagai sejumlah faktor penting yang dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku sepanjang 2026. BI memproyeksikan ekonomi Maluku tumbuh pada kisaran 5,45 persen hingga 5,85 persen secara tahunan (yoy).
Proyeksi tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama, dalam Sarasehan Wartawan dan Diseminasi Kebijakan BI di Swiss-Belhotel Ambon, Selasa, (29/09/2026)
Menurutnya, aktivitas ekonomi Maluku masih memperoleh dukungan dari aliran dana dan transfer pemerintah pusat, peningkatan aktivitas sektor produktif, serta investasi yang berkaitan dengan proyek strategis.
“Berdasarkan hasil proyeksi kami, ekonomi Maluku pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,45 persen hingga 5,85 persen,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu backbone utama perekonomian Maluku. Pemulihan harga komoditas perikanan di pasar global, khususnya cakalang, memberikan ruang bagi peningkatan kinerja ekspor daerah. Tren tersebut diperkuat dengan kenaikan volume produksi perikanan dan peningkatan penyaluran kredit pertanian. Di sisi lain, penguatan UMKM dinilai penting untuk memastikan aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor berskala besar, tetapi turut menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha lokal.
“Momentum positif ini menjadikan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Maluku,” kata Rakhmat Pratama.
BI juga melihat PSN dan aliran belanja pemerintah sebagai instrumen yang dapat memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Realisasi proyek pembangunan mendorong aktivitas konstruksi sekaligus berpotensi memberikan efek berganda terhadap perdagangan, jasa, transportasi, serta UMKM yang berada di sekitar rantai pasok proyek. Karena itu, percepatan realisasi proyek dan peningkatan keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi bagian penting agar manfaat investasi dapat lebih banyak berputar di dalam perekonomian Maluku.
Di tengah optimisme tersebut, BI tetap mencatat tantangan pada sektor pariwisata dan perhotelan. Penurunan jumlah wisatawan dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) menjadi perhatian, sementara fluktuasi harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan menekan mobilitas masyarakat. “Fluktuasi harga minyak dunia berpotensi menaikkan biaya transportasi, yang pada akhirnya memicu kenaikan ongkos perjalanan masyarakat dan menahan laju pemulihan pariwisata,” terang Rakhmat Pratama.
Dengan kondisi itu, konsistensi penguatan perikanan, perluasan pembiayaan UMKM, dan percepatan PSN menjadi faktor strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Maluku tetap berada pada jalur positif hingga akhir 2026.(PG-91)
