Kapal Terkandas, Iman Jangan Kandas : Pdt. F. Makupiola Ajak Jemaat GPM Leahari Tetap Berharap Kepada Tuhan
AMBON, PG.COM : Perjalanan hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya harapan berhadapan dengan badai persoalan, kemampuan manusia tidak lagi mampu menjadi sandaran, dan keputusan yang diambil terasa semakin sulit.
Pesan inilah yang menjadi refleksi utama dalam Ibadah Minggu di Gereja Anugerah Jemaat GPM Leahari, Minggu (25/10/2026), melalui pemberitaan Firman Tuhan oleh Pdt. F. Makupiola, S.Th., berdasarkan Kisah Para Rasul 27:14-26 dengan judul “Kapal Terkandas.”
Melalui kisah pelayaran Rasul Paulus yang diterjang badai, jemaat diajak memahami bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan bagian dari proses untuk belajar bertahan, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan tetap percaya kepada penyertaan Tuhan.
Dalam refleksinya, Makupiola menekankan bahwa setiap orang memiliki tujuan hidup dan membutuhkan persiapan untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Menurutnya, bukan sesuatu yang tertinggal di belakang, melainkan sesuatu yang harus terus diperjuangkan. Karena itu, setiap langkah menuju masa depan perlu disertai perencanaan, kesiapan, dan pegangan yang kuat ketika menghadapi situasi sulit. Ia mengingatkan bahwa dalam pergumulan, manusia kerap tergoda untuk hanya mengandalkan pengalaman, keterampilan, kemampuan, serta profesionalitas yang dimiliki.
Padahal, ketika persoalan datang melampaui batas kemampuan manusia, diperlukan keteguhan iman dan keputusan yang tidak semata-mata didasarkan pada kekuatan diri sendiri.
Mengacu pada Kisah Para Rasul 27:14-26, Makupiola menjelaskan perjalanan Rasul Paulus menuju Roma yang berlangsung dalam situasi berbahaya akibat badai di laut. Kisah yang dicatat Lukas itu menggambarkan bagaimana upaya manusia, persiapan pelayaran, serta pengalaman awak kapal tidak serta-merta mampu mengendalikan keadaan ketika badai semakin kuat.
Selama berhari-hari, para penumpang dan awak kapal berada dalam tekanan, kehilangan kepastian, bahkan menghadapi ancaman terhadap keselamatan mereka.
Situasi tersebut menjadi gambaran kehidupan ketika seseorang berada di tengah krisis: kepanikan dapat menguasai pikiran, kepentingan pribadi bisa menggeser kepedulian terhadap sesama, dan harapan perlahan melemah.
Namun, di tengah keadaan yang tampak tidak terkendali, kisah Paulus memperlihatkan bahwa iman kepada Tuhan tetap menjadi sumber keberanian untuk menghadapi hari esok.
“Tuhan tidak pernah menjanjikan kita hidup tanpa air mata, tetapi Dia menjamin bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri.” kata Pdt. F. Makupiola, S.Th., dalam refleksi Firman Tuhan di Gereja Anugerah Jemaat GPM Leahari.
Pesan tersebut menegaskan bahwa penyertaan Tuhan tidak selalu berarti persoalan langsung berakhir atau jalan hidup menjadi mudah.
Sebaliknya, manusia diajak tetap berharap, tenang, dan percaya sekalipun jawaban atas pergumulan belum terlihat. Makupiola juga mengingatkan jemaat pada kisah Yusuf dalam Alkitab, yang melewati berbagai masa sulit sebelum memahami bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupannya.
Dari kisah tersebut, jemaat diajak tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kesulitan merupakan tanda ditinggalkan Tuhan, sebab proses yang belum dipahami manusia dapat menjadi bagian dari rencana-Nya.
Melalui tema “Kapal Terkandas”, jemaat GPM Leahari diajak menjadikan iman sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan gereja. Setiap keputusan membutuhkan hikmat, setiap rencana memerlukan kesiapan, dan setiap pergumulan menuntut keteguhan untuk tidak menyerah pada keadaan.
Refleksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan iman tidak membebaskan manusia dari badai, tetapi memberikan dasar untuk tetap berdiri ketika badai datang.
Ditengah berbagai tantangan kehidupan dan tanggung jawab pelayanan, pesan yang disampaikan Makupiola jelas: ketika kemampuan manusia mencapai batasnya, harapan kepada Tuhan tidak boleh ikut kandas. (PG-01)
