Masa Tanggap Darurat Di Perpanjang Hingga 23 Oktober 2019

AMBON, PELAGANDONG.COM : Masa Tanggap Darurat yang awalnya sampai tanggal 9 September kini diperpanjang sampai 23 Oktober 2019,ungkap Kepala penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) ,Kota Ambon, Farida Salampessy Kepada awak Media di Ambon,Minggu (06/10/2019).

setelah pemerintah melakukan evaluasi pada 5 Oktober 2019 kemarin.

“Kami harus memperpanjang masa tanggap darurat karena mempertimbangkan berbagai penyaluran bantuan bagi para  Pengungsi  serta pendataan di lapangan yang belum rampung,” ujarnya. Minggu (6/10/2019).

Pemerintah juga mempertimbangkan adanya keluhan dari para pengungsi tentang lain lokasi pengungsian yang jauh, penanganan pelayanan kesehatan dan distribusi bahan pokok yang belum merata hingga terjadinya kesenjangan di lokasi-lokasi pengungsian.

Salampessy mengaku warga yang mengungsi cenderung meningkat pada malam hari ke lokasi-lokasi di dataran tinggi karena khawatir Stunami, sehingga menghambat pendataan maupun penyaluran bantuan.

“Petugas teknis seperti Kesehatan dan relawan dengan jumlah relatif masih terbatas dipastikan belum optimal menjangkau semua lokasi pengungsian, sehingga diputuskan masa tanggap darurat diperpanjang hingga dua minggu ke depan,” katanya.

Perpanjangana masa tanggap saturated menurutnya, dilakukan dengan mengarahkan BOBD maupun OPD teknis di masing-masing kabupaten/kota agar lebih intensif bekerja karena intensitas gempa semakin menurun.

Salampessy menambahkan, jumlah Pengungsi pascagempa di Kota Ambon mencapai 95.256 jiwa dari umlah Pengungsi  tersebut, tersebar di tiga wilayah, yakni: Kota Ambon 2.940 jiwa, Kabupaten Malukj Tengah 50.250 jiwa dan Kabupaten Seram Bagian Barat 42.066 jiwa.

Sedangkan korban meninggal tercatat sebanyak 38 orang, rinciannya di Kota Ambon 13 orang,Maluku Tengah 15 orang dan SBB 10 orang.

Korban luka, baik berat maupun ringan di Kota Ambo 27 orang,Maluku Tengah luka berat 72 orang dan luka ringan 18 orang serta SBB luka berat tiga orang dan luka ringan 29 orang.

“Data korban meninggal maupun luka ini berdasarkan hasil rekapitulasi Dinas Kesehatan Maluku, sedangkan data pengungsi diperoleh dari BPBD kabupaten/ kota,” pungkasnya (PG-01).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *