BI Maluku Optimistis Inflasi 2026 Terkelola, Meski Tekanan Global Meningkat
AMBON,PG.COM – Bank Indonesia Provinsi Maluku optimistis laju inflasi Maluku sepanjang 2026 tetap terkendali meski dihadapkan pada tekanan global dan peningkatan harga sejumlah komoditas strategis. Optimisme tersebut disampaikan menyusul realisasi inflasi Februari 2026 yang tercatat sebesar 0,58 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Maluku tercatat 5,97 persen, lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 sebesar 4,70 persen (yoy) dan melampaui tingkat inflasi nasional yang berada di angka 4,76 persen (yoy). Capaian ini juga masih berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy).
Tekanan inflasi secara spasial terutama bersumber dari Kabupaten Maluku Tengah yang mencatat inflasi 1,21 persen (mtm) dan Kota Ambon sebesar 0,30 persen (mtm). Sementara itu, Kota Tual mengalami deflasi sebesar -0,72 persen (mtm), sehingga turut menahan laju inflasi provinsi secara keseluruhan.
Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Wahyu Indra Sukma, menjelaskan bahwa inflasi Februari terutama dipicu oleh Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
“Inflasi pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas hortikultura antara lain buncis, tomat, kacang panjang, dan sawi dengan andil inflasi (mtm) masing-masing sebesar 0,14 persen, 0,14 persen, 0,12 persen, dan 0,08 persen,” kata Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Wahyu Indra Sukma.
Ia menambahkan, kenaikan harga tersebut terjadi akibat meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), sementara kondisi panen secara umum masih dalam situasi normal. Lonjakan permintaan musiman dinilai menjadi faktor dominan dalam pembentukan tekanan harga.
Selain pangan, inflasi juga terdorong oleh kenaikan harga emas global yang berdampak pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
“Peningkatan harga emas terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah berlanjutnya ketidakpastian kondisi geopolitik global,” ujarnya.
Mengantisipasi dinamika tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Fokus utama diarahkan pada penguatan empat pilar pengendalian inflasi (4K), yakni Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif
“Ke depan, upaya pengendalian inflasi komoditas pangan akan terus disinergikan secara berkelanjutan bersama TPID sepanjang tahun 2026 dengan mengacu pada penguatan empat pilar utama pengendalian inflasi,” jelasnya.
Langkah konkret yang dilakukan meliputi penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah sentra produksi, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), serta pemantauan rutin stok dan harga bahan pokok. Di sisi lain, komunikasi publik terus diperkuat guna menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terkendali.
Dengan kombinasi strategi struktural dan respons kebijakan yang adaptif, BI Maluku menilai tekanan global maupun faktor musiman dapat dikelola secara terukur sehingga stabilitas harga di Maluku sepanjang 2026 tetap terjaga.(PG-01)
