Tiket Gratis Disulap Jadi Ladang Bisnis, Calo Beraksi di Tulehu
AMBON, PG.COM : Praktik percaloan tiket mudik gratis Idulfitri 2026 terungkap di Pelabuhan Tulehu. Program yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu ini justru disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan pribadi.
Kasus ini mencuat pada masa angkutan Lebaran 2026, ketika sejumlah calon penumpang yang berhak memperoleh tiket gratis justru dimintai pembayaran oleh pihak tidak bertanggung jawab. Fenomena ini menimbulkan keresahan sekaligus merugikan masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat program.
Ketua Posko Penyelenggaraan Angkutan Lebaran UPP Tulehu, Hanoch Nederupun, menjelaskan bahwa program tiket gratis merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat dan perusahaan pelayaran, sementara UPP hanya menjalankan fungsi pengawasan di lapangan.
“Program ini sebenarnya baik, tetapi ada oknum yang memanfaatkan. Kami menemukan langsung ada calo yang menjual tiket gratis kepada sekitar 10 orang dengan harga Rp1,5 juta,” kata Ketua Posko Penyelenggaraan Angkutan Lebaran UPP Tulehu, Hanoch Nederupun.
Ia mengungkapkan, praktik ilegal tersebut ditemukan langsung oleh petugas, bahkan disertai bukti rekaman yang memperlihatkan aktivitas transaksi penjualan tiket gratis kepada calon penumpang dengan harga tinggi.
Temuan ini kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian. Oknum calo yang terlibat berhasil diamankan dan dimintai keterangan guna proses penanganan lebih lanjut.
Dalam perkembangan kasus, penyelesaian dilakukan melalui mekanisme mediasi. Para korban memilih tidak melanjutkan perkara ke jalur hukum dan hanya meminta pengembalian uang yang telah dibayarkan kepada pelaku.
“Yang bersangkutan sudah mengembalikan uang kepada penumpang dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya,” kata Ketua Posko Penyelenggaraan Angkutan Lebaran UPP Tulehu, Hanoch Nederupun.
Meski demikian, pihak UPP Tulehu menilai praktik percaloan tidak hanya dilakukan oleh satu orang.
Terdapat indikasi jaringan atau lebih dari satu pelaku yang beroperasi secara terselubung di area pelabuhan.
Modus yang digunakan antara lain memanfaatkan identitas keluarga atau orang lain untuk mendapatkan tiket gratis, kemudian menjualnya kembali dengan harga tinggi kepada calon penumpang yang membutuhkan.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap data distribusi tiket menjadi kendala dalam pengawasan. UPP Tulehu tidak memiliki informasi detail terkait kuota maupun realisasi penyaluran tiket gratis.
“Kami hanya menerima laporan, tidak mengetahui secara detail kuota yang tersedia dan yang sudah terpakai. Ini menjadi kendala dalam pengawasan,” kata Ketua Posko Penyelenggaraan Angkutan Lebaran UPP Tulehu, Hanoch Nederupun.
Sebagai langkah antisipatif, UPP Tulehu mengusulkan perbaikan sistem distribusi tiket, termasuk penerapan verifikasi identitas penumpang secara lebih ketat untuk memastikan program tepat sasaran.
Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program sosial, agar tidak kembali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. (PG-02)
