Carlos Matuan: Manfaat SDA Papua Belum Maksimal Dirasakan Masyarakat
AMBON, PG.COM : Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Tengah, Dr. Carlos Matuan, S.St.Pi., MM, menegaskan bahwa besarnya potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Papua belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan kewenangan daerah serta regulasi yang belum sepenuhnya mendukung pengelolaan sumber daya secara maksimal. Pernyataan itu disampaikannya usai menghadiri kegiatan di Kantor Gubernur Maluku, Rabu (3/6/2026).
Carlos menjelaskan, Papua memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik di sektor perikanan maupun sektor lainnya. Namun, potensi tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat apabila pemerintah daerah tidak diberikan ruang yang cukup dalam pengelolaannya.
.
Ia menilai kebijakan dan regulasi yang berpihak kepada daerah menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
“Papua memiliki SDA yang cukup besar. Tetapi untuk mendapatkan manfaat yang maksimal tentu ada proses dan regulasi yang harus mendukung. Jika regulasi dibuka dengan baik dan daerah diberikan kewenangan yang cukup, maka potensi itu bisa memberikan manfaat besar bagi daerah dan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, tanpa dukungan kewenangan yang memadai, daerah akan kesulitan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Akibatnya, manfaat ekonomi dari kekayaan alam yang tersedia belum tentu dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam di Papua, termasuk Papua Tengah.
“Kalau kewenangan tidak diberikan dan regulasi tidak dibuka, maka hasilnya tidak akan maksimal. Walaupun SDA tersedia, manfaatnya belum tentu dirasakan daerah maupun rakyat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sektor perikanan masih menjadi salah satu andalan Papua Tengah, terutama di Kabupaten Nabire dan Mimika yang merupakan dua wilayah pesisir di provinsi tersebut. Komoditas unggulan seperti tuna, cakalang, dan tongkol bahkan telah menembus pasar ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat.
Namun, ekspor masih dilakukan melalui Surabaya dan Jakarta, sementara volume produksi sangat bergantung pada musim dan hasil tangkapan nelayan.
“Yang terpenting adalah bagaimana potensi yang ada bisa benar-benar memberi manfaat bagi daerah dan rakyat. Itu yang menjadi harapan kami,” tutupnya. (*)
