Ini Sikap James Talakua Saat Menyampaikan Ke Jokowi Soal Menteri Asal Maluku

Ketum Maluku Voor Jokowi, James Talakua saat bersalaman dengan Presiden Jokowi dan meminta Jatah Kursi Menteri di Kabinet Jilid II)

Sikap yang luar biasa putera Maluku, James Talakua yang adalah Ketum Maluku Voor Jokowi yang meminta kepada Presiden harus ada jatah Menteri asal Maluku patut diapresiasi. James mengatakan itu sebagai tanda komitmen Jokowi melihat Maluku kedepan.

Jakarta – Posisi tawar Maluku sebagai salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah menjadi alasan yang logis dan dapat diterima oleh banyak pihak dalam posisi meminta jatah di Kabinet Jokowi jilid II itu.

“Maluku memiliki sumber daya alam yang melimpah dari dulu hingga sekang dan itu menjadi alasan kami meminta jatah di Kabinet. Kita tidak bicara sekedar karena alasan politik, melainkan ini adalah harapan besar yang dititipkan kepada saya untuk disampaikan kepada pak Jokowi”, begitu kata Ketum Maluku Voor Jokowi usai mengikuti acara 17 Agustus di Istana Negara.

Ia mengatakan bahwa Sebagai Anak asli Maluku ia merasa bertangung jawab untuk selalu memperjuangkan Hak-hak Masyarakat Maluku lewat Organisasi perjuangan Politik MVJ.

Menurutnya Momen Hari HUT kemerdekaan Indonesia yang ke 74 Perlu dihayati dengan bijak dan cermat sebagai wujud Semangat Nasionlisme dan bangkitnya kesadaran lebih untuk Membangun Maluku dalam Bingkai NKRI sebagai wujud negara yang berkeadilan agar Maluku yang kaya akan sumber Daya Alam terbebas dari belengu kemiskinan.

“Hari HUT Indonesia ini bukan saja sebagai serimonial belaka yang di rayakan lewat eforia dan narasi-narasi kosong setiap tahun namun lebih dari itu kemerdekaan harus di maknai dengan bijak oleh segenap Bangsa Indonesia dan terkhususnya Masyarakat Maluku. Apalagi kita lihat bahwa masih terlampau jauh ketimpangan Pembangunan, kesenjangan ekonomi  yang sampai saat ini di rasakan oleh Masyarakat maluku, maka itu perlu kerja kolektif yang amanah agar kedepannya Maluku dapat keluar dari belenggu kemiskinan”. tungkasnya

Menurutnya perlu di sadarkan kembali tentang sejarah panjang Maluku yang pernah berjaya dalam mengisi kemerdekaan NKRI yang terermin lewat pernyataan ir. Soekarno “Indonesia  tanpa Maluku bukan Indonesia” dan komitmen konsepsi kebangsaan serta medorong harus adanya Keterwakilan Anak Maluku di kabinet mendatang.

“Kita perlu ingat kembali bahwa sejarah Perjuangan Maluku dalam mengisi kemerdekan bukanlah sebuah dongen belaka. jong Ambon dan kawan-kawan pernah berjuang dengan darah dan harga diri dalam merebut kedaulatan bangsa ini, kekuatan politik Indonesia Tempo Itu di isi dengan manusia-manusia Maluku yang tak kalah cerdas dan hebat salah satunya Adalah Yohanes Laemena.. tentunya harus menjadi kompas perjuangan yang tak boleh kandas, Kalau bung karno pernah mengatakan bahwa Indonesia tanpa Maluku bukan Indonesia Maka Kosekuensi Logis Maluku dari sejak dulu dan sekarang adalah kekuatan besar dalam membangun peradaban bangsa yang harus tetap eksis, Namun sayangnya potret Bangsa Indonesia beberapa periode belakangan ini menempatkan Maluku seakan tengelam dalam pusaran arus politik Praktis yang mendominasi untuk itu Kami Organ Maluku Voor Jokowi selalu lantang menyuarakan Kepada Bapak Jokowi sehingga harus ada Keterwakilan anak Maluku yang duduk di Kabinet satu periode kedepan”. tegasnya

Ia juga mengatakan bahwa Maluku Voor Jokowi bukan saja organisasi relawan yang hanya memenangkan 01 dalam politik namun lebih dari itu sebagai organisasi yang berjuang untuk menjembatani suara masyarakat Maluku apalagi menurutnya pidato Pak presiden untuk Totalisasi pembangunan sampai ke seluruh tanah air.

“kami Organ Maluku Voor Jokowi Siap menjadi penyambung lidah masyarakat Maluku dan siap berjuang dengan terlibat dalam mengawal semua kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan masa depan Maluku, serta mendorong agar terwujudnya pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan  sebagai komintmen Pidato Pak Jokowi yakni membangun Total sampai kepelosok tanah air dan jangan Jawasentris”.tuturnya

Ia juga mengajak Seluruh masyarakat Maluku dan pemerintah untuk hidupkan Budaya Pela Gandong sebagai landasan Berpijak dalam berfikir eh bertindak dalam mengisi pembangunan Maluku.

“Maluku Tempo ini sesunguhnya adalah Manusia-manusia yang telah mengalami suatu degradasi Kehidupan sosial dan politik yang sadar ataut tidak sadar telah telah menginfiltrasi jati diri bangsa Maluku yaitu Budaya Besar Pela gadong, jangan hanya kapata- kapata manis yang menyejukkan telinga tapi marilah kita hidupakn budaya itu sebagi suatu pijakan berfikir dan bertindak dalam mengisi pembangunan Maluku, serta bersatu hati satu suara tanpa ada curiga kita dorong harus ada putra maluku dalam mengisi gelangan kabinet mendatang dan penting hidupkan pilosofi ale rasa beta rasa agar maluku dapat maju kedepannya dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin deras” tuturnya

Ia juga menegaskan Maluku harus terbebas dari segala bentuk diskriminasi, Intimidasi dan sigma-sigma yang mendeskritkan nilai-nilai leluhur adat dan budaya lewat persatuan dan kesatuan.

[Chrystina Rumahlatu]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *