Pembangunan Sarana Prasarana Rumah Ibadah di Malra Merata
AMBON,PG.COM : Pembangunan sarana Prasarana Rumah Ibadah di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) merata, hal ini merupakan salah satu Program Prioritas Kepemimpinan Bupati-Wakil Bupati Maluku Tenggara, Drs Muhamad Taher Hanubun dan Ir Petrus Beruatwarin, M.Si kini berjalan 2 tahun 3 bulan.
“Saya memimpin daerah baru dua tahun tiga bulan, dalam hal ini saya lakukan untuk kegiatan keumatan, yaitu pembangunan sarana prasarana, gereja mau pum masjid, dan itu tidak lagi seperti yang dulu, gereja harus saya selesaikan, misalnya penganggaran pembangunan gereja 1 miliar, saya selesaikan,”ujar Hanubun kepada awak media usai mengikuti pembukaan sidang ke-38 Sinode Geraja Protestan Maluku (GPM), yang berlangsung di Gereja Maranatha, Ambon, minggu (07/02/2021).
Tal hanya itu, kata orang nomor di bumi Larvul Ngabal ini, kegiatan seperti sidang klasis juga langsung dibiayai pemda.
“Jadi tidak lagi macam yang lalu, kan disana kita ada dua klasis, kei besat 43 jemaat dan klasis kecil 16 jemaat, semua kegiatan yang sifatnya sidang klasis ditanggung oleh pemda,”ucapnya.
Dilain sisi, silahtutahmi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), juga terus dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Terkait kearifab lokal yang disingung Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) Prof Dr Nizar, M.Ag, dalam pembukaan sidang sinode, agar menjadi pererat persatuan dalam kerukunan umat beragama, diakuinya sebelum datang agama, masyarakat semuanya satu dari, Ain Ni Ain, Ale Rasa Beta Rasa, itu terjadi disana.
Ia mencontohkan dalam satu marga terdiri dari beberapa agama, seperti marga rahayaan ada Kristeb Protestan, Krosten Katolik, Islam.
Namun induknya satu dengan flasafa hidup orang kei, MANUT IN MEHE NI FUN, FUUT IN MEHE NI TILUR, artinya kita semua berasal dari yang sama.
“Jadi kearifan lokal, sebelum datang agama, kami lebih dulu sudah ditetapkan hukum adat Larvul Ngabal untuk menjaga kami masyarakat Kei. Datang aturan, datang agama baru ada yang masuk protestan, katolik, islam, bahkan Hindu,”tuturnya.
Olehnya itu, kata Hanubun toleransi sudah terbangun dari dulu dan terkenal dengan MAREN artinya Gotong Royong, kerjasama, dengan tidak pernah membedakan agama.
Olehnya itu, pembangunan sarana prasarana Ibadah, dibangkitkan kembali sesuai budata, pembangunan Gereja bukan hanya Kristen saja, tetapi semua agama terlibat. Ajakan ibadah ke pejabat eselon II juga terus disuarakan, hari minggu ke Gereja, begitu hari lainnya e Masjid.
“Jadi kearifan lokal luar biasa, dan orang Maluku secara keseluruhan luar biasa, dan itu tidak diragukan untuk Maluku,”pungkasnya.(PG-02)
