OJK : Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

JAKARTA, PG.COM : Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik, demikian rilis yang diterima media ini, (6/8/2026).

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 29 Juli 2026, dengan mencer
mati perkembangan konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat, serta dinamika pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah gagalnya gencatan senjata AS-Iran pada awal Juli 2026 dan mendorong tekanan baru terhadap pasar energi.
K
IMF pada Juli 2026 bahkan merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen dalam proyeksi April 2026.

Perang berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang menekan prospek pertumbuhan. Namun, perkembangan investasi artificial intelligence (AI) dinilai menjadi salah satu faktor positif yang berpotensi menahan pelemahan ekonomi global.

Di saat yang sama, Amerika Serikat memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang setelah berakhirnya tarif sementara, sehingga premi risiko global masih berada pada level tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai,” kata OJK dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan 29 Juli 2026.

Di dalam negeri, kondisi makroekonomi menunjukkan sejumlah sinyal positif. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada pada level 50,2.

Kondisi tersebut menjadi penopang bagi stabilitas sektor keuangan ketika pasar global masih menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan negara-negara besar.

Pada pasar modal, IHSG pada akhir Juli 2026 ditutup di level 6.236,13 atau menguat 10,51 persen secara month-to-month (mtm), meskipun masih terkoreksi 27,88 persen secara year-to-date (ytd). Tekanan jual investor asing juga mulai mereda. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,62 triliun pada Juli 2026, berbalik dari net sell Rp19,63 triliun pada Juni. Likuiditas pasar saham turut membaik dengan rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,33 persen dari 1,75 persen pada Juni, meski rata-rata nilai transaksi harian turun menjadi Rp14,31 triliun dari Rp22,23 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 430,46 pada akhir Juli 2026, naik 0,14 persen secara mtm, namun masih terkoreksi 2,35 persen secara ytd. Yield Surat Berharga Negara (SBN) secara rata-rata meningkat 6,15 basis poin secara mtm dan 102,37 basis poin secara ytd, mencerminkan pengaruh persepsi risiko akibat ketidakpastian global. Meski demikian, minat investor asing terhadap SBN tetap positif dengan net buy Rp6,39 triliun secara month-to-date hingga 29 Juli 2026.

Sementara itu, industri pengelolaan investasi juga mempertahankan kinerja positif, dengan nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.025,12 triliun per 30 Juli 2026 atau meningkat 2,08 persen secara mtd. (PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *