Pasar Modal Indonesia Mulai Bangkit, OJK Soroti Arus Dana Asing

JAKARTA, PG. COM  : Pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah menghadapi tekanan kuat pada periode sebelumnya., dmikian rilis yang diterima media ini (6/8/2026)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 29 Juli 2026, mencatat penguatan pasar saham domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, tekanan harga minyak, serta perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Penguatan tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada akhir Juli 2026 ditutup di level 6.236,13, atau menguat 10,51 persen secara month-to-month (mtm). Meski demikian, secara year-to-date (ytd) IHSG masih mengalami koreksi sebesar 27,88 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya menghapus tekanan yang terakumulasi sejak awal tahun.

Perubahan paling mencolok terjadi pada arus dana asing. Setelah pada Juni 2026 investor asing mencatat net sell Rp19,63 triliun, pada Juli posisi tersebut berbalik menjadi net buy Rp1,62 triliun. Perubahan arus modal ini menjadi salah satu indikator penting bahwa tekanan jual mulai mereda dan sentimen terhadap aset domestik mulai membaik.

“Tekanan jual oleh investor asing di pasar saham domestik mereda pada Juli 2026, di mana tercatat adanya net buy investor asing senilai Rp1,62 triliun,” kata Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam laporan perkembangan sektor jasa keuangan Juli 2026.

Dari sisi likuiditas, kondisi pasar juga menunjukkan perbaikan. Rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,33 persen pada Juli dari 1,75 persen pada Juni. Penyempitan spread mencerminkan membaiknya kondisi perdagangan saham. Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi tantangan karena Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) justru turun menjadi Rp14,31 triliun, dibandingkan Rp22,23 triliun pada Juni 2026.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 430,46, naik 0,14 persen mtm, meski masih terkoreksi 2,35 persen ytd. Investor asing tetap menunjukkan minat terhadap Surat Berharga Negara (SBN) dengan net buy sebesar Rp6,39 triliun hingga 29 Juli 2026. Pada saat yang sama, industri pengelolaan investasi mencatat nilai Asset Under Management (AUM) sebesar Rp1.025,12 triliun per 30 Juli 2026, meningkat 2,08 persen secara month-to-date.

Pemulihan pasar modal tersebut berlangsung ketika risiko global belum sepenuhnya mereda. Konflik Timur Tengah, volatilitas harga komoditas, serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat masih berpotensi memengaruhi arus modal dan sentimen investor. Di dalam negeri, tekanan inflasi yang tercatat 2,88 persen yoy dan PMI manufaktur 50,2 memberikan ruang yang relatif lebih positif. OJK pun menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, tetapi momentum pemulihan pasar modal tetap perlu dikawal agar penguatan indeks dan arus dana asing dapat berlanjut secara berkelanjutan. (PG-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *